Minut- Batas waktu enam bulan yang diberikan untuk membenahi toilet dan air bersih di sekolah-sekolah Minahasa Utara dipersingkat oleh Dinas Pendidikan menjadi sekitar tiga bulan. Fasilitas yang disasar adalah yang ada di seluruh sekolah dasar dan menengah pertama.
Kepala Dinas Pendidikan Minahasa Utara, Evelyn Luntungan, mengambil langkah percepatan itu setelah Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) RI, Prof. Zudan Arif Fakrulloh, melemparkan tantangan untuk menyelesaikan persoalan fasilitas dasar sekolah tersebut.
Prof. Zudan menyampaikan tantangan itu dalam Sosialisasi Penguatan Manajemen Talenta dalam Konsistensi Pengisian Jabatan di Kabupaten Minahasa Utara, Kamis (24/9/2026). Menurutnya, bila toilet dan ketersediaan air di seluruh SD dan SMP bisa dibenahi dalam enam bulan, capaian itu dapat menjadi dasar kenaikan pangkat luar biasa bagi Evelyn.
Evelyn justru melihat tantangan itu dari sudut pandang yang lebih luas. Ia menilai pembenahan sanitasi sekolah memang menjadi tanggung jawab Dinas Pendidikan demi memastikan peserta didik belajar di lingkungan yang layak.
“Bagi kami, tantangan dari Kepala BKN RI adalah motivasi yang luar biasa. Kami menyambutnya dengan penuh sukacita dan semangat,” ujar Evelyn kepada media ini, Kamis (1/10/2026).
Ia menekankan bahwa toilet dan air bersih bukanlah target tambahan, tetapi layanan dasar yang wajib tersedia di setiap sekolah.
“Ketika diberikan challenge tersebut, justru lebih memotivasi kami. Ini menjadi target untuk ke depan yang kita capai bersama,” katanya.
Langkah pertama Dinas Pendidikan untuk mengejar target tiga bulan adalah memetakan kondisi fasilitas sanitasi sekolah. Evelyn menyebut inventarisasi seluruh toilet sekolah sudah berjalan sepanjang pekan ini. Hasilnya akan menjadi acuan untuk menentukan bentuk intervensi, khususnya terkait kebersihan dan ketersediaan air.
“Dalam minggu ini kami sudah menginventarisasi seluruh toilet yang ada di Minahasa Utara. Selanjutnya kami akan melakukan intervensi melalui kebersihan dan ketersediaan air bersih di toilet sekolah,” jelasnya.
Untuk urusan air, Dinas Pendidikan akan berkoordinasi dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Selain itu, kepala sekolah akan dimintai komitmen agar pembenahan tidak dilakukan hanya saat ada pemeriksaan atau penilaian.
Evelyn menegaskan program ini harus terus berjalan, bahkan setelah target dari Kepala BKN terpenuhi.
“Bukan hanya untuk mencapai target saya pribadi. Ini merupakan program yang harus dilaksanakan secara berkelanjutan,” tegasnya.
Soal persentase sekolah yang kini sudah memiliki toilet bersih dan air memadai, Evelyn belum bisa menyebutkan angkanya karena inventarisasi masih berlangsung dan data perlu dipastikan lebih dahulu.
“Masih ada catatan-catatan yang perlu kita tinggalkan. Saat ini kami masih melakukan inventarisasi. Dalam waktu dekat kami akan bisa mempresentasikan berapa banyak toilet bersih yang ada di Minahasa Utara,” tandasnya.
Dengan demikian, tantangan yang semula bertenggat enam bulan kini menjadi pendorong percepatan pembenahan fasilitas dasar pendidikan di Minahasa Utara.




Tinggalkan Balasan