Minut Luncurkan Inovasi Tumpang Sari Kelapa-Jagung untuk Dongkrak Pendapatan Petani

Minut- Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) mendorong optimalisasi perkebunan rakyat lewat inovasi tumpang sari kelapa dan jagung. Program bertajuk Dua Hasil Satu Lahan: Revolusi Tumpang Sari Kelapa-Jagung Minahasa Utara ini dirancang untuk meningkatkan produktivitas lahan, membuka sumber pendapatan tambahan bagi petani, dan memperkuat ketahanan pangan daerah.

Inovasi gagasan Dinas Pertanian Minut di bawah pimpinan Kepala Dinas Bertha Katuuk ini diluncurkan secara resmi oleh Bupati Minahasa Utara Joune James Esau Ganda di Atrium Kantor Bupati Minut, Senin (2/11/2026). Peluncurannya menjadi bagian dari Sosialisasi Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN), yang sekaligus memperkenalkan delapan inovasi daerah hasil proyek perubahan peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXIII.

Lewat Dua Hasil Satu Lahan, Dinas Pertanian Minut mendorong perubahan pola pengelolaan perkebunan rakyat, dari yang selama ini berfokus pada satu komoditas menjadi sistem pertanian terintegrasi. Jagung ditanam di sela-sela pohon kelapa sehingga satu hamparan lahan berpotensi menghasilkan dua komoditas sekaligus. Pola ini diharapkan meningkatkan pemanfaatan lahan tanpa menggantikan atau menghilangkan kelapa sebagai salah satu komoditas unggulan Minahasa Utara.

Kepala Dinas Pertanian Minut, Bertha Katuuk, melalui inovasi ini mendorong pengembangan sistem budidaya yang lebih produktif, terencana, dan berkelanjutan. Selain membuka peluang tambahan pendapatan, integrasi kelapa dan jagung diarahkan mengurangi ketergantungan petani pada satu sumber penghasilan. Kelapa tetap menjadi komoditas utama, sedangkan jagung berperan sebagai pendamping yang memberi tambahan hasil sekaligus mendukung ketersediaan pangan.

Penerapan tumpang sari ini perlu disesuaikan dengan kondisi lahan, jarak tanam, umur dan kondisi pohon kelapa, serta teknik budidaya yang tepat. Dengan perencanaan yang baik, pemanfaatan ruang di antara pohon kelapa diharapkan memberi nilai tambah bagi perkebunan rakyat.

Dalam sambutannya, Bupati Joune Ganda menegaskan bahwa setiap inovasi pemerintah daerah harus diterapkan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Ia mengingatkan agar inovasi tidak sekadar menjadi syarat administratif bagi ASN peserta pendidikan dan pelatihan kepemimpinan, tetapi benar-benar menjadi terobosan yang menjawab kebutuhan warga dan bisa dikembangkan secara berkelanjutan.

“Potensi daerah kita sangat besar. Tetapi kalau pelayanan dari dinas-dinas terkait tidak sinkron, maka semuanya tidak akan berjalan dengan baik. Karena itu, inovasi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan kepastian dan kemudahan bagi investor,” tegas Joune.

Menurutnya, sektor pertanian, perkebunan, dan pariwisata adalah bagian penting dari potensi ekonomi Minahasa Utara yang harus dikelola secara optimal. Pengembangan potensi itu membutuhkan inovasi yang tepat sasaran, didukung koordinasi dan sinkronisasi antarperangkat daerah agar program pembangunan berjalan efektif.

Joune juga meminta seluruh perangkat daerah mengevaluasi inovasi yang sudah diluncurkan, termasuk program hasil peserta PKN periode sebelumnya.

“Saya berharap inovasi yang dihasilkan ini bukan hanya sekadar memenuhi persyaratan sebagai peserta PKN. Inovasi ini harus menjadi sebuah legacy, harus dilaksanakan dan terus dikembangkan. Karena itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap seluruh program inovasi yang sudah ada, termasuk inovasi dari peserta sebelumnya,” ujarnya.

Delapan inovasi daerah yang diluncurkan dalam kegiatan ini adalah SIPERINTIS MINUT, SIKLABAT, DEWI MINUT MEMIKAT, SIGAP BANGUN MINUT, AKSI KLABAT, Dua Hasil Satu Lahan, SIFORSA MINUT, dan KILAT DESA.

Acara ini dihadiri Asisten I, II, dan III, staf ahli bupati, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), kepala bagian, para camat, serta Direktur RSUD Maria Walanda Maramis.

Peluncuran Dua Hasil Satu Lahan menjadi langkah awal Dinas Pertanian Minut mendorong diversifikasi usaha tani lewat integrasi kelapa dan jagung. Keberhasilannya akan ditentukan oleh penerapan di lapangan, pendampingan kepada petani, serta kemampuan meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan.

Dengan mempertahankan kelapa sebagai komoditas unggulan sekaligus mengembangkan jagung sebagai sumber hasil tambahan, inovasi ini diharapkan memperkuat sektor pertanian Minahasa Utara dan membuka peluang ekonomi baru bagi petani.

Posted In :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *